DKI jakarta menjadi ibu kota negara sejak bangsa ini merdeka bahkan sejak zaman kolonial belanda sudah menjadi ibu kota hindia belanda. Jakarta sudak overload baik populasi maupun kendaraan sehingga dari segi ekonomi terjadi inefisiensi dimana-mana. Kepala perwakilan bank dunia Rhodrigo Chaves mengatakan kerugian akibat macet di jakarta bisa mencapai 3 miliar dolar atau 39,9 triliun rupiah. Angka itu bisa dipakai untuk membangun berbagai proyek infrastruktur. Belum lagi masalah banjir yang setiap tahun menghantui ibu kota ini dan berbagai masalah sosial lainnya karena sudah overload yang diperparah lagi dengan laju urbanisasi yang belum bisa ditangani dengan baik.

Sejak presiden pertama sudah ada wacana pemindahan ibu kota ke kota palangkaraya kemudian di masa presiden soeharto ada wacana memindahkan ibu kota ke jogol jawa barat. Sedangkan pada zaman SBY ada wacana perluasan ibu kota dengan sebutan the greater jakarta namun semuanya tidak ada yang terlaksana. Di era Jokowi wacana pemindahan ibu kota kembali mengemuka dan wacana yang muncul diluar jawa.

Kita tunggu saja daerah mana yang terpilih tapi kemungkinan besar di pulau kalimantan. Jika kita melihat beberapa negara yang memindahkan ibu kota negaranya terbilang sukses dan terjadi perkembangan yang pesat dan kerugian inefisiensi bisa dihindari. Sebut saja australia, malaysia, jepang, brazil dan masih banyak lagi. Mudah-mudahan pemerintah merencanakan dengan baik dan tidak terburu-buru.