Hosting Unlimited Indonesia

  1. Teori Konsumsi Absolute

    Teori konsumsi Keynes dikenal dengan Hipotesis Pendapatan Absolut (Absolute Income Hypotesis yang pada intinya menjelaskan bahwa konsumsi seseorang dan atau masyarakat secara absolut ditentukan oleh tingkat pendapatan, kalaupun ada faktor lain yang juga menentukan, maka menurut Keynes kesemuanya itu tidak berarti apa-apa dan sangat tidak menentukan.

    Teori Konsumsi Keynes didasarkan pada 3 postulat yaitu:

    Konsumsi meningkat apabila pendapatan meningkat, akan tetapi besarnya peningkatan konsumsi tidak akan sebesar peningkatan pendapatan, oleh karenanya adanya batasan dari Keynes sendiri yaitu bahwa kecenderungan mengkonsumsi marginal = MPC (Marginal Propensity to Consume) adalah antara nol dan satu, dan pula besarnya perubahan konsumsi selalu diatas 50% dari besarnya perubahan pendapatan (0,5<MPC<1)

    Rata-rata kecenderungan mengkonsumsi = APC (Avarage Propensity to Consume). akan turun apabila pendapatan naik, karena peningkatan pendapatan selalu lebih besar daripada peningkatan konsumsi, sehingga sehingga pada setiap naiknya pendapatan pastilah akan memperbesar tabungan. Dengan demikian dapat dibuatkan satu pernyataan lagi bahwa setiap terjadi peningkatan pendapatan maka pastilah rata-rata kecenderungan menabung akan semakin tinggi.

    Bahwa pendapatan adalah merupakan determinan (faktor penentu utama) dari konsumsi. Faktor lain dianggap tidak berarti.

    Keynes menjelaskan bahwa konsumsi saat ini (current consumption) sangat dipengaruhi oleh pendapatan disposabel saat ini (current disposable income). Menurut Keynes, ada batas konsumsi minimal yang tidak tergantung tingkat pendapatan. Artinya, tingkat konsumsi tersebut harus terpenuhi, walaupun tingkat pendapatan sama dengan nol. Itulah yang disebut dengan konsumsi otonomus (autonomous consumption). Jika pendapatan disposabel meningkat, maka konsumsi juga meningkat. Hanya saja peningkatan tersebut tidak sebesar peningkatan pendapatan disposabel.

    C = C0 + b Yd

    dimana,

    C = konsumsi

    C0 = konsumsi otonomus

    b = marginal prospensity to consume (MPC)

    Yd = pendapatan disposable

    0 ≤ b ≤ 1

    Sebagai tambahan penjelasan, perlu diberikan beberapa catatan mengenai fungsi Konsumsi Keynes tersebut diatas:

    – Merupakan variabel riil/nyata, yaitu bahwa fungsi konsumsi Keynes menunjukkan hubungan antara pendapatan dengan pengeluaran konsumsi yang keduanya dinyatakan dengan menggunakan tingkat harga konstan, bukan hubungan antara pendapatan nominal dengan pengeluaran konsumsi nominal.

    – Merupakan pendapatan yang terjadi (current income), bukan pendapatan yang diperoleh sebelumnya, dan bukan pula pendapatan yang diperkirakan terjadi di masa datang (yang diharapkan).

    – Merupakan pendapatan absolut, bukan pendapatan relativ atau pendapatan permanen.

    – Fungsi konsumsi Keynes adalah fungsi konsumsi jangka pendek. Keynes tidak mengeluarkan fungsi konsumsi jangka panjang karena menurut Keynes “in the long run we’re all dead”.

  2. Teori Konsumsi Permanen

    Pada tahun 1957, Milton Friedman dalam bukunya menjelaskan hipotesis pendapatan-permanen (permanent income hypotesis) menggambarkan perilaku konsumen. Hipotesis pendapatan-permanen Friedman melengkapi hipotesis daur hidup Modigliani: keduanya menggunakan teori konsumsi Irving Fisher untuk menyatakan bahwa konsumsi seharusnya tidak hanya bergantung pada pendapatan sekarang. Namun tidak seperti hipotesis daur-hidup, yang menekankan bahwa pendapatan mengikuti pola reguler selama masa hidup seseorang. Hipotesis pendapatan-permanen menekankan bahwa manusia mengalami perubahan acak dan temporer dalam pendapatan mereka dari tahun ke tahun

    Teori dengan hipotesis pendapatan permanen dikemukakan oleh M Friedman. Menurut teori ini pendapatan masyarakat dapat digolongkan menjadi 2 yaitu pendapatan permanen (permanent income) dan pendapatan sementara (transitory income). Pendapatan permanen dapat diartikan:

    a.Pendapatan yang selalu diterima pada setiap periode tertentu dan dapat diperkirakan sebelumnya, misalnya pendapatan dari gaji, upah.

    b.Pendapatan yang diperoleh dari semua faktor yang menentukan kekayaan seseorang (yang menciptakan kekayaan)

    Kekayaan yang dimiliki seseorang dapat dikelompokkan sebagai berikut:

    a.Kekayaan non manusia (non human wealth) adalah bentuk kekayaan fisik yaitu barang-barang konsumsi tahan lama (gedung, rumah, obligasi,dsb).

    b.Kekayaan manusia (human wealth) adalah dalam bentuk kemampuan yang melekat pada diri manusia itu sendiri (keahlian, pendidikan, dsb).

    Ada dua asumsi mengenai hubungan antara pendapatan permanen dengan pendapatan sementara:

    a.Tidak ada korelasi antara pendapatan permanen dengan pendapatan transitory, karena pendapatan sementara merupakan faktor kebetulan saja.

    b.Pendapatan sementara tidak mempengaruhi pengeluaran konsumsi

  3. Teori Konsumsi Relatif

    James Dusenberry mengemukakan bahwa pengeluaran konsumsi suatu masyarakat ditentukan terutama oleh tingginya pendapatan tertinggi yang pernah dicapainya. Dalam teorinya, Dusenberry menggunakan dua asumsi yaitu:

    a. Selera sebuah rumah tangga atas barang konsumsi adalah interdependen. Artinya pengeluaran konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh pengeluaran yang dilakukan oleh orang sekitarnya. Sebagai misal, seseorang yang memiliki kemampuan pengeluaran konsumsi yang sederhana tinggal di tempat masyarakat yang pengeluaran konsumsinya serba kecukupan, secara otomatis ada rangsangan dari orang tersebut untuk mengikuti pola konsumsi di masyarakat sekitarnya.

    b. Pengeluaran konsumsi adalah irreversibel. Artinya pola pengeluaran seseorang pada saat penghasilan naik berbeda dengan pola pengeluaran pada saat penghasilan mengalami penurunan. Sebagai misal, apabila pendapatan seseorang mengalami kenaikan maka secara otomatis konsumsi juga mengalami kanaikan dengan proporsi tertentu, dst bila pendapatan mengalami penurunan, maka juga akan diikuti oleh penurunan konsumsinya.

  4. Teori Konsumsi Life Cycle

    Teori “hipotesis siklus hidup” berasumsi bahwa orang menabung untuk memuluskan konsumsi mereka selama hidup. Satu tujuan pentingnya adalah untuk mendapat pendapatan masa pensiun yang mencukupi. Oleh karena itu, orang bekerja dan cenderung menabung sehingga dapat menambah simpanan untuk pensiun dan kemudian membelanjakan tabungan mereka yang terkumpul pada masa tua.

    Model konsumsi siklus hidup lebih menekankan pada variabel sosial ekonomi, di mana yang lebih menjadi perhatian adalah variabel usia (umur). Model ini dikembangkan oleh Franco Modigliani, Albert Ando, Richard Brumberg. Di dalam teorinya dijelaskan bahwa pengeluaran konsumsi seseorang sangat tergantung dari perjalanan umur seseorang.

    Model siklus hidup ini membagi perjalanan manusia ke dalam 3 periode:

    a. Periode belum produktif (0 tahun sampai dengan usia kerja). Dalam tahap ini dikatakan oleh ABM bahwa seseorang melakukan konsumsi dalam kondisi “Dissaving”, kenapa demikian karena seseorang melakukan konsumsi sangat tergantung pada orang lain.

    b. Periode produktif (dari usia kerja sampai dengan usia di mana orang tersebut sudah menjelang usia tua). Tahap ini dikatakan bahwa seseorang berkonsumsi dalam kondisi “Saving”, kenapa dikatakan demikian, karena seseorang pada tahap ini pengeluaran konsumsinya sudah tidak tergantung pada orang lain.

    c. Periode tidak produktif lagi. Tahap ini seseorang kembali berada dalam kondisi “Dissaving”, dengan kata lain bahwa seseorang melakukan konsumsi kembali tergantung pada orang lain. Karena dalam tahap ini seseorang tidak lagi mampu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri.

    Formulasi model fungsi konsumsi siklus hidup sebagai berikut:

    C = aW

    Ada tiga faktor yang membentuk nilai W

    a) Nilai sekarang penghasilan dari kekayaan yaitu berupa bunga, sewa.

    b) Nilai sekarang penghasilan dari balas jasa kerja yaitu berupa upah, gaji.

    c) Nilai sekarang penghasilan upah yang diharapkan diterima seumur hidup.

  5. Teori Konsumsi Random Walk, Robert Hall pertama kali menderivasi implikasi ekspektasi rasional pada konsumsi. Ia menunjukkan bahwa jika hipotesis pendapatan-permanen benar, dan jika konsumen punya ekspektasi rasional, maka perubahan konsumsi sepanjang waktu menjadi tak dapat diprediksi. Ketika perubahan variabel tak dapat diprediksi, variabel dikatakan mengikuti jalan acak (random walk ). Menurut Hall, kombinasi hipotesis pendapatan-permanen dan ekspektasi rasional mengimplikasikan bahwa konsumsi mengikuti jalan acak.
  6. Teori Konsumsi Kaldor, Kaldor membagi masyarakat ke dalam 2 kelas yaitu pekerja dan kapitalis. Pekerja di asumsikan mendapat seluruh pendapatannya dari tenaga kerja sedangkan kapitalis mendapatkan pendapatan mereka dari kekayaan.

Adapun persamaan dari keenam teori diatas adalah sama-sama menganggap bahwa pendapatan adalah faktor yang sangat penting yang mempengaruhi konsumsi. Sedangkan perbedaannya ialah dalam menilai pendapatan itu sendiri. Kalau Keynes beranggapan bahwa faktor lain selain pendapatan itu tidak berarti apa-apa. Sedangkan teori life cycle menjelaskan bahwa pengeluaran konsumsi seseorang sangat tergantung dari perjalanan umur seseorang dimana orang bekerja dan cenderung menabung sehingga dapat menambah simpanan untuk pensiun dan kemudian membelanjakan tabungan mereka yang terkumpul pada masa tua. Sementara itu teori konsumsi permanen melengkapi teori life cycle, namun tidak seperti hipotesis daur-hidup, yang menekankan bahwa pendapatan mengikuti pola reguler selama masa hidup seseorang. Hipotesis pendapatan-permanen menekankan bahwa manusia mengalami perubahan acak dan temporer dalam pendapatan mereka dari tahun ke tahun. Sedangkan teori random walk menunjukkan bahwa jika hipotesis pendapatan-permanen benar, dan jika konsumen punya ekspektasi rasional, maka perubahan konsumsi sepanjang waktu menjadi tak dapat diprediksi. Ketika perubahan variabel tak dapat diprediksi, variabel dikatakan mengikuti jalan acak (random walk ). Untuk teori pendapatan relatif mengemukakan bahwa pengeluaran konsumsi suatu masyarakat ditentukan terutama oleh tingginya pendapatan tertinggi yang pernah dicapainya, dan teori kaldor mengesampingkan teori pendapatan relatif dengan membagi masyarakat ke dalam 2 kelas yaitu pekerja dan kapitalis. Pekerja di asumsikan mendapat seluruh pendapatannya dari tenaga kerja sedangkan kapitalis mendapatkan pendapatan mereka dari kekayaan.