Dari tabel diatas kita dapat mengetahui bahwa ada trend peningkatan ekspor dari tahun 2002 dan puncaknya di tahun 2013 sebesar 64 juta ton lebih yang di ekspor ke luar negeri. Kemudian pada tahun 2014 terjadi penurunan drastis yang hanya sebesar 4 juta ton lebih. Hal ini bukan karena penurunan produksi dan juga bukan karena kualitas ekspor indonesia yang menurun tetapi lebih disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang melarang ekspor bahan mentah terkhusus untuk bijih nikel yang berlaku sejak januari 2014. Pemerintah menginginkan ada pengolahan di Indonesia agar ada nilai tambah yang diberikan dari tambang nikel secara khusus dan juga bahan mineral lainnya secara umum.

Dengan dibangunnya smelter-smelter maka diharapkan akan memberikan nilai tambah baik buat pemerintah maupun buat masyarakat karena akan membuka lapangan kerja baru. Ketua Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Ladjiman Damanik mengatakan tahun ini pabrik pemurnian (smelter) nikel akan bertambah. Tahun ini, akan ada 26 smelter nikel yang dioperasikan. “Yang on progress ya segitu, akhir tahun ini operasi,” ucap Ladjiman saat ditemui di Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, Senin, 6 Maret 2017 (https://m.tempo.co).