Hosting Unlimited Indonesia

Kota sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat pendidikan membuat penduduk banyak terkonsentrasi di daerah perkotaan sebagai akibat dari adanya urbanisasi. Hal tersebut berlangsung terus-menerus sehingga lama kelamaan Kota menjadi padat. Dengan padatnya Kota tentu memberi dampak pada berbagai aspek kehidupan diantaranya aspek ekonomi, aspek sosial, aspek budaya, aspek politik dan aspek lingkungan.

  1. Aspek Ekonomi

    Hal ini ditandai dengan bergantinya lahan pertanian menjadi gedung-gedung sektor pemerintah maupun sektor lainnya. Semakin banyak penduduk di suatu wilayah maka hal tersebut merupakan potensi karena penduduk merupakan pasar bagi output-output suatu industri. Pengusaha akan selalu membangun industri dengan pilihan meminimalkan biaya pemasaran outputnya atau meminimalkan biaya inputnya baik itu sumber biaya tenaga kerja maupun sumber biaya bahan bakunya.

    Bagi pengusaha yang ingin meminimalkan biaya pemasarannya maka akan cenderung membangun usahanya di daerah yang dekat dengan pasar dalam hal ini wilayah konsentrasi penduduk. Disamping itu penduduk yang terkonsentrasi tersebut juga dapat dijadikan sebagai sumber tenaga kerja untuk input perusahaan.

    Adapun dampak positif dengan padatnya kota bahwa kota itu semakin berkembang karena orang terkonsentrasi di kota dan dampak negatifnya adalah pembangunan cenderung dilakukan di kota dibandingkan di desa.

    Oleh karena itu Pemerintah jangan hanya membangun daerah perkotaan dan melupakan daerah pedesaan atau daerah penggirannya karena teori mengenai tricle down effect cenderung tidak terjadi.

  2. Aspek Sosial

    Kota menjadi padat karena adanya pertambahan penduduk yang bermacam-macam suku dengan watak yang beragam pula, membuat kehidupan di Kota juga sangat beragam. Dengan beragamnya suku dan watak masing-masing penduduk tidak jarang terjadi perselisihan yang kadang kala berujung pada tindak kriminal.

    Kota tidak mampu menampung penduduk yang terus berdatangan dari Desa sehingga menimbulkan dampak negatif seperti ketidakmampuan masyarakat yang tidak dapat bersaing untuk mendapatkan pekerjaan yang halal maka sebahagian dari pendatang tersebut beralih ke pekerjaan yang tidak halal dalam artian melakukan tindak kriminal dan penyakit sosial lainnya seperti menjadi pekerja seks komersial, pengemis, perampok dan lain sebagainya.

    Sedangkan dampak positifnya bahwa dengan banyaknya orang di kota maka dibentuklah yayasan-yayasan sosial, lembaga dan organisasi sosial. Kita ketahui bersama pula bahwa manusia adalah makhluk sosial sehingga dengan banyaknya penduduk mereka dapat bekerja sama dalam melakukan kegiatan dengan mudah seperti membuat jembatan dan lain-lain.

    Adapun yang dapat dilakukan adalah meningkatkan patroli rutin baik di siang hari terlebih lagi di malam hari, meningkatkan sosialisasi tentang pentingnya hidup rukun dan damai antar sesame manusia yang heterogen, dan memberikan pembinaan bagi maysarakat yang terjaring dalam operasi penyakit masyarakat.

  3. Aspek Budaya

    Kegiatan urbanisasi oleh masyarakat di desa telah membuat kota menjadi padat. Berbagai golongan, suku, maupun agama berada di kota dan mereka semua saling berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maupun untuk kepentingan lainnya. Kota sebagai tempat terjadinya kegiatan sosial maka akan menimbulkan suatu kebudayaan atau hasil pemikiran yang dapat digunakan untuk kelangsungan hidup di kota yang disebut dampak positifnya

    Dengan semakin berkembangnya kota maka arus globalisasi tidak mudah dibendung dengan budaya-budaya lokal sehingga memberikan dampak negative seperti masuknya budaya-budaya barat yang bertolak belakang dengan budaya Indonesia. Seperti model-model pakaian yang tidak sopan yang dapat mengundang tindak kriminalitas dan lain sebagainya.

    Oleh karena itu pemerintah melalui departemen kebudayaan dapat melakukan penelitian dan menyaring budaya-budaya yang sudah tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia.

  4. Aspek Politik

    Urbanisasi telah membuat kota menjadi padat dan menjadi tempat konsentrasi penduduk sehingga jumlah penduduk terbanyak cenderung di kota. Hubungannya dengan aspek politik adalah politik dapat berkembang dengan pesat jika digerakkan dan didukung oleh orang banyak. Dengan berkumpulnya penduduk di kota maka ini merupakan potensi bagi kader-kader partai politik untuk mengumpulkan simpatisan bagi partainya yang penulis sebut sebagai dampak positif.

    Sedangkan dampak negatifnya bahwa politik dapat berkembang pesat dikota maka tidak jarang terjadi perselisihan karena persaingan politik di antara politisi. Oleh karena itu pemerintah harus membuat aturan perpolitikan yang jelas dan mengikat semua unsur tanpa membedakan.

    Dengan demikian partai politik dapat berkembang jika berada di kota, namun penduduk di desa tidak dapat di pandang sebelah mata karena penduduk desa juga merupakan sumber suara bagi partai politik.

  5. Aspek Lingkungan

    Sementara itu, dengan dibangunnya pemukiman dan kawasan bisnis baru berakibat langsung terhadap semakin sempitnya ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan.

    Dengan terbatasnya daya dukung Kota terhadap pencemaran, jelas pencemaran di dalam Kota akan naik cepat apabila tidak ada kebijaksanaan atau usaha untuk menanggulanginya. Apalagi dengan bertambahnya urbanisasi, daya dukung lingkungan akan makin berkurang. Dengan adanya konsentrasi orang jelas kepadatan tak dapat dihindari. Udara menjadi semakin tercemari, kualitas air semakin memburuk. Sampah terserak-serak dimana-mana (Sukanto dan Karseno, 1985: 106).

    Adapun dampak lingkungan kota yang berkaitan dengan urbanisasi menurut Entang Sastraatmadja (1986: 29-30) antara lain:

    1. Pertambahan penduduk di kota yang begitu cepat, sudah sulit diikuti dengan kemampuan daya dukung kotanya. Ruang untuk tempat tinggal, ruang untuk kelancaran lalulintas kendaraan dan tempat parkir kendaraan, sudah dirasakan sangat kurang.
    2. Pertambahan kendaraan bermotor yang membanjiri kota dengan tidak henti-hentinya menimbulkan pencemaran udara.
    3. Pengembangan industri di kota menghasilkan bahan sisa indusiri yang mengakibatkan polusi udara, polusi air dan pencemaran tanah.
    4. Pencemaran yang bersifat sosial ekonomi, seperti: pendidikan, banyaknya gelandangan, berbagai bentuk kenakalan remaja dan kejahatan.

    Adapun yang dapat dilakukan pemerintah harus tegas dengan yang namanya ruang terbuka hijau untuk mengatasi permasalahan lingkungan. Dengan bertambahnya penduduk maka bangunan tempat tinggal juga bertambah dan sanitasi cenderung diabaikan. Dalam hal ini dibutuhkan ketegasan pemerintah tanpa membedakan siapapun dia dalam pemberian izin mendirikan bangunan.